21 Agustus 2008, TV Swasta Trans7 menurunkan berita tentang seorang pecatur cilik Indonesia yang jadi juara dunia dapat undangan dari Presiden RI (SBY) untuk hadir dalam Upacara 17-an. Tapi dengan biaya sendiri. Bayangin coba, dia disuruh datang untuk apa dan dengan alasan apa? Pasti karena dia juara dunia kan?
Selesai acara … si pecatur cilik dengan bapaknya nggak bisa pulang dan terkatung-ketung di pusat negara RI, Jakarta.
Kamis, 21/08/2008 18:03 WIB
Terlantar, Juara Dunia Catur Dijemput Depdiknas di Posko PDIP
Ari Saputra – detikNews
Jakarta – Yuni Veronika, juara dunia catur usia 11 tahun asal Riau, terlunta-lunta di Jakarta setelah menghadiri peringatan HUT ke-63 RI di Istana. Tidak punya tiket pulang, Yuni dan ayahnya kemudian ditampung di Posko PDIP. Kamis (21/8/2008) Yuni dan bapaknya dijemput staf Depdiknas.
Namun, Depdiknas yang mengundang Yuni berkelit telah menelantarkan Yuni Veronika. Menurut salah seorang staf Depdiknas yang menjemput Yuni, Depdiknas tidak menganggarkan biaya perjalanan Yuni dengan bapaknya, Sudirman (50).
“Kesalahan dari bapak itu sendiri. Tidak berkoordinasi. Kami sudah membicarakan, kami tidak menyediakan dana untuk itu,” kata staf Direktorat Pengawasan TK/SD Depdiknas, Yuni S, saat menjemput Yuni di Posko Salah satu parpol di Grogol Selatan, Jakarta Selatan, Kamis (21/8/2008).
Yuni dan Sudirman terbang dari Riau untuk menghadiri upacara bendera HUT RI di Istana Presiden 17 Agustus lalu atas undangan Depdiknas. Malamnya, Yuni bersama anggota pengibar bendera pusaka dijamu makan malam oleh Presiden SBY di Istana Kepresidenan.
Pagi harinya, siswi kelas 5 SD 009 Pangkalan Kerinci, Riau tersebut mulai kehabisan ongkos. Lantas keduanya meminta belas kasihan kepada warga untuk menampung karena sudah tidak punya uang sama sekali. Lantas, keduanya ditampung di Posko PDIP.
“Sekarang saya kapok main catur lagi. Kalaupun mau main, karena saya suka,” ucap Yuni menyesal.
Kini, Yuni dan Sudirman dilempar ke koordinator KONI daerah Riau di Jakarta untuk dipulangkan ke Riau.(Ari/asy)
Emang negeri Indonesia ini negeri penguasa sinting, rakyat hidup genting. Inilah perilaku anak buah di daerah … yang katanya dipilih langsung oleh rakyat … lewat pilkadal. Salah sendiri pake pilkadal, mending pake pil buaya! Pokoknya gila bener penguasa negeri ini. Mulai kepala sampe buntut semuanya pantes jadi penghuni negara sinting.
Masih mau pake democrazy seperti sekarang?
YOU DECIDE!
Ari Saputra – detikNews
Jakarta – Hingga saat ini, Kepala Dinas Pendidikan Nasional Kab. Lembata, NTT, Martin Didi Lejak, benar-benar menghilang tanpa jejak. Bersama rekan satu timnya, Madjid Lamahoda, Didi kabur membawa uang akomodasi 30 penari asal NTT yang manggung di Istana Merdeka.
“Hilang setelah pawai. Katanya cuma mau jalan-jalan lihat kota Jakarta. Sampai sekarang, hilang tidak bisa dihubungi,” kata pembina tari, Dominik Rully kepada wartawan, di penampungan warga di RT 10/4, Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (22/8/2008).
Sedikit ada titik cerah saat telepon genggam Martin Didi dapat dihubungi Kamis (23/8/2008) sore kemarin. Didi mengatakan sedang jalan-jalan menyusuri jalan Thamrin Jakarta Pusat. Namun, telepon tiba-tiba saja mati sebelum sempat ditanyakan tanggung jawab keduanya.
“Kita marah-marahi itu orang. Jalan-jalan tapi anak buah terlantar. Nggak tahulah duit itu untuk apa. Buat mabuk atau main wanita kita nggak tahu,” ucap Rully kesal.
Kini ketigapuluh penari yang merupakan siswa-siswa SMA tersebut masih menunggu kedatangan Bupati Lembatta Ande Manuk. Rencananya, Ande Manuk akan mengusakan rombongan penari tersebut dapat pulang ke Lemabatta, sebuah kabupaten yang ditempuh 12 jam dari Kupang lewat jalur darat.
“Awalnya Bupati minta ditemui di anjungan NTT di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kita nggak mau, biar bupati yang ke sini, lihat langsung kondisi anak-anak,” papar Rully.(Ari/asy)
Duh Gusti Allah … tunjukkan peringatanMu yang keras kepada para penguasa kami. Semoga segera tersadarkan mereka sebelum kiamat kecilMu menjemput mereka.